Ar-Rumaisha binti Milhan(Ummu Sulaim)رضي الله عنها

 Satu di antara kegemilangan wanita Anshar adalah keimanan Ummu Sulaim. Ia adalah sosok cerdas, bijaksana, luar berpikir, dan berakhlak mulia. Nama lengkapnya Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin 'Amir bin Ghanam bin 'Adie bin an-Najaar al-Anshariyah al-Khazrajiyah.

Ia adalah salah seorang wanita di Madinah yang memeluk Islam. Sifat-sifat yang dimiliki sosok seorang Muslimah melekat padanya. Maka tak heran, anak pamannya, Malik bin Nadhar, meminangnya untuk dijadikan istri. Dari pernikahan keduanya, lahirlah sahabat setia Rasulullah SAW, Anas bin Malik.

Saat Islam datang di negeri Makkah, warga Anshar yang jujur sudah mulai mendengar berita gembira datangnya seorang Nabi. Ummu Sulaim adalah salah satu penduduk Madinah yang langsung menyambut seruan Islam. Tidak ada keraguan di dalamnya meski ia paham konsekuensi keimanannya di antara kaumnya yang belum beriman.

Kemarahan besar ia dapatkan dari suaminya, Malik bin Nadhar. Malik mendamprat Ummu Sulaim yang telah memeluk cahaya Islam. "Apakah kamu sudah murtad dari agamamu?" tanya Malik. "Tidak!" jawab tegas Ummu Sulaim, "bahkan aku sesungguhnya telah beriman." Karena perbedaan prinsip keimanan, keduanya pun berpisah.


Setelah bercerai, sosok Ummu Sulaim yang teguh, keibuan, dan jujur menarik hati Abu Thalhah. Seorang hartawan yang kala itu juga masih belum beriman. Ia pun mengajukan lamaran ke Ummu Sulaim. Namun, Ummu Sulaim dengan tegas menolaknya.

"Demi Allah, orang seperti engkau tidak pantas ditolak. Hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku seorang Muslimah. Sehingga, tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Jika kamu masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu," ungkap Ummu Sulaim kepada Abu Thalhah.

Sungguh, ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan kemewahan.

Ummu Sulaim adalah wanita cerdas, namun hatinya lembut. Abu Thalhah berpikir apakah dirinya akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Ummu Sulaim untuk diperistri dan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Dengan mantap Abu Thalhah pun mengikrarkan keislamannya. "Aku berada di atas apa yang kami yakini, aku bersaksi tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Maka jadilah Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalhah dengan mahar keislaman. Sebuah mahar yang sangat agung.


Abu Thalhah dan Ummu Sulaim membangun keluarga yang berlandaskan iman dan Islam. Tidak ada satu pun dilewatkan tanpa kebaikan dari Allah SWT.

Satu kisah terkenal tentang sikap terbaik Ummu Sulaim adalah saat Abu Thalhah harus pergi sementara anak mereka sakit keras. Karena sebuah urusan penting, Abu Thalhah harus merelakan meninggalkan anaknya dengan Ummu Sulaim.

Saat Abu Thalhah pergi, kesehatan sang anak semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia. Saat Abu Thalhah kembali ke rumah, Ummu Sulaim tak ingin membuat hati Abu Thalhah sedih. Maka Ummu Sulaim memasak makanan kesukaan Abu Thalhah, ia pun bersolek dan memakai pakaian terbaiknya untuk menyambut sang suami. Saat Abu Thalhah menanyakan kondisi anak mereka, Ummu Sulaim menjawab, "Sekarang ia sudah lebih tenang.

Maka Ummu Sulaim menjamu Abu Thalhah dengan masakannya. Setelah merasa kenyang, Abu Thalhah pun diajak beristirahat. Setelah berkumpul dan Abu Thalhah merasa tenang, Ummu Sulaim memulai percakapan. "Wahai suamiku, apa pendapatmu jika suatu kaum menitipkan barang ke kita, lantas ia kembali untuk mengambil barangnya, apakah kita pantas menolaknya?"

"Tentunya tidak boleh wahai istriku," jawab Abu Thalhah. "Bagaimana jika kita keberatan tatkala barangnya diambil?" tanya Ummu Sulaim lagi. "Itu sangat tidak adil," jawab Abu Thalhah. "Sesungguhnya anakmu titipan Allah dan Allah telah mengambilnya dari kita. Maka tabahkanlah hatimu dengan merelakan anakmu." Ummu Sulaim menceritakan hal yang sebenarnya.


Abu Thalhah marah karena tidak diberi tahu secara langsung kabar tersebut. Keesokan harinya ia menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan permasalahannya. Rasulullah SAW justru menjawab, "Semoga Allah merahmati malam kalian." (HR Muslim). Ummu Sulaim pun hamil dan setelah melahirkan, Rasulullah SAW memberikannya nama Abdullah.

Kesabaran yang luar biasa ditunjukkan oleh Ummu Sulaim. Sikapnya yang tegar karena ditinggal anaknya lebih kuat sehingga bisa menghibur hari suaminya. Ia pula yang menyerahkan anaknya, Anas bin Malik, sebagai pelayan rumah Rasulullah. Ummu Sulaim merasa malu tidak bisa memberikan apa-apa untuk dakwah. Ia pun menyerahkan Anas sebagai pemuda yang terus ikut bersama Rasulullah bahkan banyak meriwayatkan hadis dari Beliau SAW

Khadijah binti Khuwailid.رضي الله عنها

 Khadijah bin Khuwalid

Ummul Mukminin, itulah gelar yang disandangkan bagi pemimpin para wanita ahli surga, Khadijah binti Khuwalid. Ia adalah istri Rasulullah yang selalu berada di sis beliau di kala suka maupun duka.

Dilahirkan di Mekah pada tahun 68 sebelum hijrah, ia tumbuh di tengah keluarga terhormat nan mulia. Keluarganya kaya raya dan terpandang. Namun, akhlak mulia yang dimililkinya membuat ia dikenal sebagai Ath-Thahirah (wanita suci).

Meskipun kaya raya dan merupakan seorang istri dari Rasulullah, sosok Khadijah tidak pernah lepas dari gambaran wanita yang setia. Ia rela mengorbankan harta, pikiran, jiwa dan raganya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dengan penuh khidmat dan rasa cinta, ia selalu berusaha untuk mendapatkan keridhaan sang suami.

Dalam sebuah hadist disebutkan,

“Wahai Rasulullah, Khadijah sebentar lagi akan datang sambil membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka, jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dariku. Dan sampaikan pula kabar gembira untuknya, yaitu sebuah rumah dan mutiara-mutiara di surga. Tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan” (HR. Bukhari)

Begitu teguhnya imannya, kemuliaan akhlaknya sebagai seorang istri dan ketulusan cintanya pada Rasul membuat Baginda Rasulullah tidak dapat melupakannya meskipun Khadijah wafat lebih dulu kala itu.

Istri ketiga Rasul, Aisyah Radhiyallahu ‘anha pun di buat cemburu atas hal tersebut. Ia merasa cemburu akan kecintaan sang baginda kepada Khadijah meski sudah tiada. Dalam suatu hadis diriwayatkan, Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga Beliau selalu menyebut nama Khadijah dan memujinya setiap hari.

Aku cemburu dan berkata, ‘Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau?’


Maka Rasulullah marah sampai berkerut dahinya, kemudian bersabda, ‘Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya! Sungguh ia telah beriman saat manusia mendustakanku, menolongku dengan hartanya di saat manusia menjauhiku dan dengannya Allah mengkaruniakan anak padaku, tidak dengan wanita (istri) yang lain.’

“Aku pun berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

Asiyah binti Muzahim.رضي الله عنها

 Asiyah binti Muzahim

Dewasa ini, kebanyakan wanita tentu memilih pasangan hidup yang mampu menjadi imam baginya dan dapat menuntunnya hingga ke surga. Namun, bagaimana dengan kisah Asiyah binti Muzahim? Wanita mulia yang harus menjadi istri dari seorang Raja Fir’aun yang zhalim.

Kala itu ia merindukan kehadiran seorang anak, hingga akhirnya ia diberi petunjuk oleh Allah dan menemukan Nabi Musa yang masih bayi di pinggir Sungai Nil. Diangkatlah Musa sebagai anak dari Asiyah dan Firaun.

Musa kecil lambat laun tumbuh menjadi dewasa, Ia menentang kezhaliman ayah angkatnya dan menyiarkan kebenaran tauhid yang sejati. Asiyah yang melihat keberaniannya kala itu takjub dan beriman atas Allah sebagai Tuhannya dan Nabi Musa sebagai utusan-Nya.

Mengetahu hal itu, ia pun dihukum oleh Fir’aun seberat-beratnya. Namun, ditengah siksaan yang kejam itu, para malaikat menaunginya dan Asiyah berdoa ,”Ya Rabb, bangunkanlah sebuah rumah bagiku di sisi-Mu dalam surga” . Seketika Allah memperlihatkan rumah baginya yang telah disediakan. Sesaat sebelum ia dibunuh oleh para algojo, Allah memerintahkan malaikat untuk membawa ruh Asiyah, sehingga ia tidak tersiksa lebih lama lagi

Akhlaq Nabi Muhammadصلى الله عليه وسلم

 

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mewariskan ilmu pengetahuan yang paling utama dan paling mulia, yaitu agama Islam yang lurus ini. Allah Ta’ala berfirman,

 

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)

Beliau juga mendapatkan pengakuan langsung yang sangat mulia dari Allah Ta’ala,

 

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4


Dengan tingginya kedudukan Nabi dan kemuliaannya, beliau adalah panutan manusia dalam hal ke-tawadhu’-an dan kerendahan hati. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala berfirman,

 

“Maka berkat rahmat Allah engkau wahai Muhammad berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Al-Imran: 159).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga diperintahkan untuk berlaku tawadhu’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

“Dan sesungguhnya, Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan kabar gembira untuk mereka yang bersikap tawadhu’,

 

 

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarungku-Ku. Barangsiapa yang menyaingi Aku pada salah satu dari kedua sifat tersebut, niscaya Aku akan melemparkannya ke dalam api neraka.’” (HR. Abu Dawud no. 4090, Ahmad no. 9359 dan Ibnu Majah no. 4174)

Dalam keseharian Nabi-shallallahu alaihi wasallam- tercermin ketawaduan yang jelas, dari segi cara berpakain, cara berkendara dan lainnya tidak berlebih-lebihan, padahal bisa saja beliau memakai pakaian seperti pakaian mewah para raja di zaman itu, berkendara dengan tunggangan kuda tangguh yang mahal sebagaimana yang dilakukan sebagian orang di zaman itu.

Di antara bentuk ke-tawadhu’-an beliau yang lain, saat sedang di rumah, maka beliau akan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dan membantu istri-istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata saat ada yang bertanya perihal keseharian Nabi di rumahnya,

 

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu salat, maka beliau keluar untuk melaksanakan salat.” (HR. Bukhari no. 676)

Di antara bentuk ke-tawadhu’-an beliau juga adalah apa yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

 

“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para sahabat) cintai saat melihatnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu.” (HR. Tirmidzi no. 2754 dan Ahmad no. 13623)

Lihat bagaimana kisah ke-tawadhu’-an Nabi dengan seorang perempuan berkulit hitam yang biasa menyapu dan membersihkan masjid Nabawi di masa Nabi-shallallahu alaihi wasallam-


Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan dan tidak mendapati perempuan tersebut, lalu beliau menanyakannya kepada para sahabat. Para sahabat pun menjawab, “Ia telah wafat.”

Lalu Nabi bersabda, “Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?”

Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka meremehkan urusannya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tunjukkan kuburnya kepadaku.”

Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan salatku terhadap mereka.” (HR. Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956)

 

Bahkan ke-tawadhu’-an Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga terwujud dan dirasakan oleh budak-budak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

 

“Sekiranya ada seorang budak dari budak penduduk Madinah menggandeng tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (meminta tolong kepada Nabi), sungguh beliau akan beranjak bersamanya ke mana budak itu pergi (sampai selesai urusan yang dimintai pertolongannya dari Nabi tersebut).” (HR. Bukhari secara muallaq no. 6072)

Subhanallah, seorang budak mengambil tangannya, sedangkan beliau di tengah para sahabatnya dan dengan banyaknya kesibukan beliau, namun beliau tetap melayani dan berlaku lemah lembut terhadap budak tersebut!

Sungguh semua kisah ini akan membuat kita semakin mencintai beliau, karena fitrah manusia adalah mencintai mereka yang berlaku tawadhu’ dan rendah hati.

Di antara bukti ketawaduan beliau -shallallahu alaihi wasallam-, apa yang diceritakan oleh Abu Dzar dan Abu Hurairah -radiallahu anhuma-:

 

“Dari Abu Dzar dan Abu Hurairah-radiallahu anhuma-:Rasulullah sering duduk di tengah-tengah para sahabat beliau, lalu jika datang orang asing, ia tak akan tahu manakah sosok Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-. Lalu kami meminta kepada beliau agar mau dibuatkan tempat duduk khusus agar orang asing yang datang langsung mengetahui di mana beliau.” (Shahih Abu Dawud: 4698).

Di antara bentuk ketawaduan Nabi-shallallahu alaihi wasallam-adalah beliau kerap kali menanyakan tentang kondisi dan keadaan sahabat-sahabat beliau bahkan dalam kondisi genting saat peperangan:


Diceritakan oleh Abu Barzah-radiallahu anhu-dalam Shahih Muslim: “Bahwa dalam sebuah peperangan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bertanya: Apakah kalian kehilangan seseorang? lalu para sahabat menyebutkan beberapa nama, beliau-shallalhu alaihi wasallam- bertanya lagi: Apakah kalian kehilangan seseorang? Maka para sahabat menyebutkan nama-nama yang lain lagi. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam- bertanya lagi: Apakah kalian kehilangan seseorang, para sahabat menjawab: tidak ada lagi. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam- bersabda: Saya kehilangan seorang bernama Julaibib, carilah dia, lantas para sahabat menemukannya di samping tujuh orang musuh yang berhasil dia bunuh dalam perang itu dan iapun terbunuh. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam-datang dan berdiri di dekat jenazah Julaibib seraya bersabda: Ia telah berhasil membunuh 7 musuh lalu dia terbunuh. ila akhiril hadits.

Di antara bentuk tawadhu’ beliau-shallallahu alaihi wasallam- apa yang disebutkan dalam Shahih Bukhari Muslim bahwasanya Anas bin Malik lewat di depan anak-anak kecil lalu mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian Anas mengatakan:

 

“Nabi-shallallahu alaihi wasallam-melakukan hal itu” (yaitu apabila lewat bahkan di depan anak-anak kecil beliau memberi salam).


Di antara bentuk tawadhu’ beliau -shallallahu alaihi wasallam- adalah bahwa beliau kerap kali membonceng para sahabat di atas kendaraan yang beliau tunggangi, Anas bin Malik -radiallahu anhu- mengatakan:

 

“Nabi-shallallahu alaihi wasallam- kerap kali membonceng orang di atas kendaraannya, menaruh makannya di atas tanah, memenuhi undangan walaupun dari seorang budak dan kendaraannya beliau sederhana berupa keledai.” (Shahih al-Jami’:4945).

Hadirin Jama’ah shalat jumat yang dirahmati Allah

Akan sangat panjang jika kita menyebutkan semua riwayat tentang bentuk-bentuk ketawaduan Nabi-shallallahu alaihi wasallam-, namun sekelumit riwayat dan hadits-hadits tadi rasanya cukup menggambarkan bagaimana indahnya ketawaduan yang langsung dipraktekkan oleh beliau dan kita merasa layak untuk memiliki sifat yang mulia ini.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita semua sifat-sifat mulia yang menghiasai akhlak dan adab kita dan mengindarkan dari kita semua sifat-sifat tercela. Amiin ya rabbal alamiin.

Doa-Doa sehari-hari

Doa-Doa sehari-hari

 

Do’a Untuk Orang Yang Mengenakan Pakaian Baru

اِلْبَسْ جَدِيْدًا وَعِشْ حَمِيْدًا وَمُتْ شَهِيْدًا Do’a sebelum tidur

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.

Dengan namaMu,ya Allah,aku mati dan aku hidup.

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ, وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ, وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ, وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ, رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ, آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

Ya Allah,aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku serahkan semua urusanku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena aku mengharap dan takut kepadaMu, sesngguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancamanMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan, dan juga kepada Nabi yang Engkau utus.

Do’a Bangun Tidur

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ.

Segala puji bagi Allah yang telah kembali menghidupkan kami setelah ditidurkanNya,dan kepadaNya kami dibangkitkan.

Do’a Masuk WC

(بِسْمِ اللهِ) اللَّهُمَّ إِنَّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

Dengan nama Allah.Ya Allah,sungguh aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.

Do’a Keluar WC

غُفْرَانَكَ.

Aku memohon ampunan kepadaMu.

Do’a Sebelum Wudhu

بِسْمِ اللهِ.

Dengan nama Allah (aku berwudhu).

Do’a Setelah Wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهَّرِيْنَ.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan  benar kecuali hanya Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya. Ya Allah, jadikah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikan aku termasuk golongan orang-orang (yang suka) bersuci.

Do’a Mengenakan Pakaian

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِيْ هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنَّيْ وَلَا قُوَّةٍ.

Segala pujian bagi Allah yang memberikan pakaian ini bagiku sebagai rizki dariNya tanpa ada daya dan kekuatan dariku.

Do’a Mengenakan Pakaian Baru

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.

Ya Allah, milikMu semata segala pujian, Engkaulah yang memberi pakaian ini bagiku. Aku memohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya, dan juga kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, dan juga dari keburukan tujuan dibuatnya pakaian ini.

.

Berpakaianlah yang baru, hiduplah dengan terpuji dan matilah dalam keadaan syahid.

Do’a Meletakan Pakaian

بِسْمِ اللهِ.

Dengan nama Allah (ku letakkan pakaian)

Do’a keluar Rumah

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Dengan nama Allah (aku keluar rumah). Aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah.

Do’a Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ.

Dengan nama Allah (aku masuk).

 

Do’a Sebelum Makan

بِسْمِ اللهِ.

Dengan nama Allah (aku makan).

Adapun jika lupa membaca doa dipermulaannya hendaklah membaca:

بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ.

Dengan nama Allah pada awal serta pada akhirnya.

Do’a Sesudah Makan

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنَّيْ وَلَا قُوَّةٍ.

Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku, dan Dia yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.

Do’a Bagi Seseorang Yang Memberi Makan Dan Minum

اَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ.

Ya Allah, berikanlah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman bagi orang yang memberi minman kepadaku.

Do’a Ketika Berbuka Puasa

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.

Do’a Ketika Berbuka Puasa Di Rumah Orang Lain

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ, وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ.

Telah berbuka orang-orang yang berpuasa di rumahmu, dan orang-orang yang baik memakan makananmu, dan Malaikat mendo’akan agar kamu sekalian mendapat rahmat.

Ummu Zufar Meraih Surga Dengan Kesabaran


Dia adalah seorang shahabiyyat bernama Su’airah al-Asadiyyah atau yang dikenal dengan Ummu Zufar radhiyallohu’anha.

Su’airah al-Asadiyyah berasal dari Habsyah , sekarang ini dikenal dengan Ethiopia. ia seorang wanita yang berkulit hitam, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketulusan. Ia adalah bukti nyata dalam kesabaran, keyakinan dan keridhaan terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah, Rabb Pencipta Alam semesta. Dia adalah wanita yang berbicara langsung dengan pemimpin dan imam bagi orang-orang yang  sabar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “maukah  engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku pun menjawab, “Tentu saja.”

Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:

 “Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 “Jika engkau ingin bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”

Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.” Kemudian ia berkata lagi:”Sesungguhnya aku (apabila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)

betapa tingginya keimanan wanita ini. Meski ditimpa penyakit, ia tidak putus asa akan rahmat Allah dan bersabar terhadap musibah yang menimpanya. Sebab ia mengetahui  dalam musibah atau cobaan yang diberikan Allah kepada manusia terkandung hikmah yang agung, yang dengannya Allah ingin membersihkan hambanya dari dosa dan mengangkat derajatnya di akhirat kelak. Dengan keyakinan itulah Su’airah lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, kerana apa yang ada disisi Allah lebih baik dan kekal. Dan Ketika diberikan pilihan kepadanya antara surga dan kesembuhan, maka ia lebih memilih surga yang abadi.

Kisah keislaman Abu رضي الله عنه

Abu Darda dan Abdullah bin Rawahan adalah dua orang sahabat semasa jahiliyah, manakala Islam datang Abdullah bin Rawahah bersegera masuk Islam, sementara Abu Darda masih berpaling dari kebenaran Islam

Namun hal itu tidak memutuskan jalinan persahabatan diantara keduanya, karena Abdullah bin Rawahah masih selalu mengunjungi Abu Darda mengajaknya untuk masuk Islam dan menyarankannya untuk meninggalkan peribadatan kepada patung-patung,Abdullah bin Rawahah menyayangkan hari-hari Abu Darda yang dilewatinya dalam keadaan musyrik.

Pada suatu hari kaum Muslimin kembali dari perang Badar dengan membawa kemenangan,dan pada saat itu Abu Darda sedang berada di tokonya sibuk dengan perniagaannya. bersamaan dengan itu Abdullah bin Rawahah menuju ke rumah Abu Darda menghancurkan patung-patung yang berada disana, dan ketika Abu Darda pulang ke rumahnya, ia melihat patung-patungnya telah hancur berkeping-keping dan ia mengetahui itu semua adalah perbuatan sahabatnya yakni Abdullah bin Rawahah. Abu Darda sangat marah dan ia ingin membalas perlakuan sahabatnya itu, namun tiba-tiba amarahnya mereda sedikit demi sedikit dan akhirnya hilang, ia merenungkan apa yang telah terjadi, dan ia berkata dalam dirinya : jika memang patung-patung ini memiliki kebaikan niscaya dia akan membela diri


Saat itu juga dia beranjak meninggalkan rumahnya menuju kepada Abdullah bin Rawahah, lalu keduanya menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengumumkan diri masuk Islam.



Kelembutan hati nabi terhadap anak kecil


 Kelembutan hati nabi terhadap anak kecil:

Anas bin malik adalah anak dari ummu sulaim yang dipersembahkan oleh ibunya untuk berkhidmat membantu Rasullulah shallallahu ‘alaihi wasallam, kala itu umurnya sekitar sepuluh tahun

Anas bin malik berkata : Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Satu hari beliau mengutusku untuk satu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, aku ingin bermain bersama mereka, aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-. 

Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, dengan tersenyum beliau bersabda : wahai unais apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan? Maka aku pun salah tingkah, aku menjawab :”ya sekarang aku berangkat wahai rasulullah”.

Demi allah,aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun,beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan”mengapa  kamu melakukan ini?” dan beliau tidak pernah berkata  untuk sesuatu yang aku tinggalkan”mengapa kamu tinggalkan ini?” bila rasulullah memangil anas,terkadang beliau memangilnya dengan unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang,dan di lain waktu beliau memanggilnya”wahai anaku


Kisah Jabir bin Abdillah menjamu Rasulullah di perang Khandaq

Kisah Jabir bin Abdillah menjamu Rasulullah di perang Khandaq

 

Kisah Jabir bin Abdillah menjamu Rasulullah di perang Khandaq

Jabir berkata:

di perang Khandaq kami menggali parit, sebuah batu besar menghalangi proses penggalian, kami tidak kuasa menghancurkannya. kami datang kepada Rasulullah saw seraya berkata : wahai Nabiyyullah penggalian kami terhalang oleh sebongkah batu padas yang kokoh, kapak-kapak kami tumpul menghadapinya.

maka Nabi saw bersabda : biarkan ia,  aku akan turun menanganinya.

kemudian beliau bangkit, saat itu beliau mengganjal perut beliau dengan batu karena rasa lapar yang berat, selama tiga hari kami tidak mencicipi makanan. Nabi saw mengambil kapak dan menghantamkannya ke batu tersebut, dan batu itu hancur berantakan.

saat itu aku sangat bersedih melihat keadaan Rasulullah saw yang sedang menahan lapar, lantas aku menemuinya dan berkata: apakah engkau mengijinkanku ya Rasulullah kalau aku pulang sebentar?

Nabi menjawab : silahkan

setibanya dirumah aku berkata kepada istriku : apakah kamu mempunyai sedikit makanan, sungguh aku sangat sedih melihat rasa lapar yang menimpa diri Rasulullah saw, dimana tidak akan ada orang yang bisa menahannya.

dia menjawab : ada sedikit gandum dan seekor domba kecil, lalu aku menyembelih domba itu, mengulitinya dan memotong-motongnya, aku meletakannya di sebuah bejana, lalu aku mengambil gandum menggilingnya dan menyerahkannya kepada istriku, istriku membuat adonan, ketika aku melihat daging hampir matang, adonanpun sudah mulai mengembang, aku meninggalkan rumah menuju Rasulullah saw. aku berkata kepada beliau, ya Rasulullah ada sedikit makanan yang kami buat, silahkan engkau datang bersama satu atau dua orang.

beliau bertanya : berapa banyak makananmu? maka aku jelaskan keadaan yang sebenarnya, manakala Nabi mengetahui kadar makanan kami, beli,au bersabda:wahai orang-orang yang sedang menggali parit sesungguhnya jabir telah membuat makanan untuk kalian, marilah kita menyantapnya.

kemudian Nabi saw berkata kepadaku : pulanglah dulu dan katakan kepada istrimu jangan menurunkan bejana dari tungku dan jangan membuka adonanmu sampai aku datang.

akupun pulang dengan perasaan malu, malu yang hanya diketahui Allah, aku berkata dalam diriku :apakah para penggali parit itu semua akan hadir untuk menyantap satu sha gandum dan seekor domba kecil?

aku segera masuk rumah dan berkata pada istriku : celaka, aku benar-benar malu, Rasulullah membawa seluruh orang-orang Khandak kepada kita. istriku berkata :apakah beliau berkata berapa banyak makananmu?

aku menjawab : ya.

dia berkata : berbahagialah Allah dan Rasulnya  lebih mengetahui. kata-katanya mengangkat kecemasanku. tidak berselang lama Rasulullah saw datang bersama orang-orang muhajirin dan anshar yg menggali parit, beliau bersabda kepada mereka : masuklah, dan jangan berdesak-desakan.

kemudian beliau bersabda : panggilah orang lain untuk membuat roti bersamamu. jangan menurunkan bejanamu dari tungku, cukup bagimu menciduknya. kemudian Nabi memotong-motong roti dan meletakkan daging di atasnya dan menyuguhkannya kepada seluruh sahabat, mereka semua makan hingga kenyang.

jabir berkata: aku bersumpah dengan nama Allah, ketika orang banyak meninggalkan rumahku, saat itu bejanaku masih mendidih penuh dengan daging sedangkan adonanku masih seperti sedia kala, kemudian Nabi bersabda kepada istriku : makanlah dan hadiahkanlah, maka dia makan dan dia membagi-bagikan makanan yang tersisa di hari itu kepada orang lain.

 

Kisah keislamam Abdullah bin Mas’ud

 



Kisah keislamam Abdullah bin Mas’ud

saat itu dia adalah seorang anak yang baru menginjak usia dewasa, dia menghabiskan hari-harinya di bukit-bukit Makkah jauh dari penduduknya dengan membawa sekelompok domba yang dia gembalakan milik salah seorang pembesar Makkah Uqbah bin Abi Muaith. orang-orang memanggilnya Ibnu Ummi Abd, adapun namanya adalah Abdullah bin Abi Mas’ud.


suatu hari Abdullah bin Abi Mas’ud melihat dari kejauhan dua orang laki-laki dewasa yang berwibawa menuju ke arahnya, keduanya terlihat sangat kelelahan, keduanya pun Nampak kehausan sehingga bibir dan tenggorokan mereka mengering.

ketika keduanya tiba di depan anak ini, keduanya mengucapkan salam dan berkata : wahai anak, perahlah susu domba ini untuk kami, kami sangat kehausan.

anak itu menjawab : tidak, aku tidak mau, ini bukan dombaku, aku hanya penggembalanya.

dua orang laki-laki itu tidak mengingkari jawaban anak itu, kerelaan terlihat dari wajah keduanya



kemudian salah seorang dari keduanya berkata : tunjukkan aku seekor domba kecil yang belum dikawini oleh pejantan. maka anak itu menunjuk seekor kambing betina kecil yang tidak jauh darinya. laki-laki itu melangkah dan memegang kambing itu, dia mengusap emping kambing dengan tangannya sementara mulutnya mengucapkan nama Allah. anak itu melihat kepadanya dengan kekaguman, dia berkata dalam dirinya : sejak kapan kambing kecil yang belum dikawini oleh pejantan bisa menghasilkan susu?

namun emping kambing itu tiba-tiba mengembang, susu memancar darinya dengan sangat derasnya. Maka laki-laki yang lain mengambil sebuah batu cengkung dari tanah,dia memenuhinya,dia minum dan kawanya juga minum,kemudian keduaya memberiku minum,sementara keheranan terhadap apa yang aku lihat masih menyelimuti diriku.




dahaga kami hilang,maka laki-laki yang penuh berkah itu berkata kepada emping kambing : mengempislah. maka emping kambing itu mengempis sehingga kembali seperti semula.

pada saat itu aku berkata pada laki-laki yang penuh berkah itu :ajarilah aku ucapan yang engkau katakan itu. maka ia menjawab :kamu adalah anak laki-laki yang pintar.

ini adalah awal kisah perkenalan Abdullah bin Mas’ud dengan islam, karena laki-laki yang penuh berkah itu tidak lain adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kawannya itu tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. ketika itu keduanya sedang melakukan perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah

tidak berselang lama setelah itu Abdullaah bin Mas’ud masuk Islam, dia menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengabdikan dirinya kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuruti tawarannya dengan senang hati. sejak hari itu anak yang beruntung ini berpindah dari menjaga kambing kepada khidmat untuk penghulu umat kemanusiaan.

 

Sumayyah binti Khayyath رضي الله عنها



S
umayyah binti Khayyath, wanita muslimah yang namanya menorehkan tinta emas dalam sejarah, sebagai sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam yang meraih kehormatan menjadi wanita pertama masuk Islam dan mendapat kabar gembira yaitu masuk surga, sebagai wanita pertama yang berdiri tegak meraih syahidah (mati syahid).

Kisah Sumayyah binti Khayyath, diawali datangnya Yasir bin Amir bersama dua orang saudaranya Al-Harith dan Malik yang berasal dari Yaman. Tujuannya mencari saudaranya yang sudah beberapa lama hilang. Namun setelah mereka mencari ke berbagai pelosok Mekkah mereka tidak menemukannya. Al Harith dan Malik memutuskan untuk kembali ke Yaman. Namun, Yasir bin Amir memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Arab, orang asing yang datang dan menetap di sana harus mengikat perjanjian dengan tokoh terkemuka Quraisy di kota itu untuk mendapatkan perlindungan. Maka, Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah tokoh terkemuka dari Bani Makhzum.  Tidak berapa lama kemudian Abu Hudzaifah menikahkan Yasir bin Amir dengan seorang budak sahayanya Sumayyah binti Hayyath. Dan mereka berduapun dikaruniai seorang putra bernama Ammar.

Saat fajar Islam mulai mendatangi Mekkah, terang cahayanya membersihkan jiwa-jiwa yang menerima kebenaran, Keluarga Yasir menerima cahaya keislaman itu dari putranya Ammar yang mendengar dakwah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, dengan penuh keyakinan Ammarpun memeluk Islam. kemudian ia pulang menemui kedua orang tuanya, dan mengajak keduanya untuk masuk Islam. Keduanya pun tertarik dengan Islam dan merekapun memeluk Islam di awal perkembangannya.

Setelah musyrik Quraisy mendengar berita keislaman keluarga Yasir, mereka marah besar khususnya Bani Makhzum. Mereka pun mendatangi keluarga Yasir untuk mengetahui kebenaran berita tersebut. Sumayyah dan keluarganya tidak menampik keislaman mereka. Kemudian mereka mendapatkan penyiksaan dari Bani Makhzum dan Abu Jahal sebagai pemuka kaum musyrik Quraisy.

Sumayyah dan keluarganya mendapatkan bermacam-macam penyiksaan agar mereka keluar dari agama Islam dan kembali ke agama semula. mereka diseret ke jalan dan dilemparkan ke padang pasir, mereka dijemur dibawah terik matahari Mekkah tidak diberi minum dan tidak diberi makan

pada suatu hari keluarga Yasir sedang mengalami penyiksaan dan ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati mereka dan melihat mereka dalam keadaan sedang disiksa. lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الجَنَّةُ مَوْعِدَكُمُ فَإِنَّ يَاسِرٍ  آلَ يَا صَبْرًا

 “bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan bagi kalian adalah surga“. (HR: al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 5646)

Sumayyah yang mendengar ucapan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pun semakin yakin dengan keimannya. Ia pun tidak mempedulikan siksaan-siksaan yang dijatuhkan kepadanya. Abu Jahal yang sudah merasa putus asa, menumpahkan kemurkaanya dengan menusukan tombak ke perut Sumayyah. Sebagian riwayat mengatakan Abu Jahal menusukan tombak dari bagian kemaluan sampai tembus ke bagian leher Sumayyah. Wanita mulia ini pun wafat dalam memperjuangkan Aqidahnya.

Keteguhan Sumayyah dalam memperjuangkan Aqidah Islamnya tidak pernah redup dalam kondisi apapun. Hatinya yang dipenuhi tauhid lebih memilih mendermakan jiwanya di atas agama Islam dan menukarkan nyawanya dengan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imannya yang begitu kokoh menuntunnya melaksanakan perintah Tuhannya yang berfirman:

 مُسلمُوْنَ وَأَنْتُمْ إِلَّا تَمُوْتُنَّ وَلَا تُقاتِهِ  حَقَّ اللّهَ اتَّقُوْا آمَنُوا الَّذِيْنَ أَيُّهَا يَا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“. (Ali Imran :102)


Sumayyah binti Hayyath adalah tauladan kaum hawa sepanjang masa yang namanya akan selalu dikenang dalam keteguhan iman meski nyawa tertaruhkan. Semoga Allah meridhai Sumayyah ra, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya

Al-Barra' bin Malik رضي الله عنه





Seorang lelaki dengan berambut kusut badan berdebu,berperawakan kurus,tulang tubuhnya

berbalur daging tipis,mata para pemandangnya melihat kepadanya dengan sulit,kemudian langsung 

berpaling darinya.

Sekalipun demikian,laki-laki ini pernah membunuh 100 orang musyrik sendirian duel di medan

 perang!!.

Dia adalah laki-laki pemberani,bernyali besar dan bertekat baja,di mana al-faruq menulis kepada 

para gubernurnya di seluruh wilayah kekuasaannya"jangan menyerahkan pasukan kaum muslimin 

kepadanya,aku khawatir dia akan mencelakakan mereka karena keberaniaannya"

Dia adalah al-barrra' bin malik al-anshary,saudara anas bin malik pelayan rasulullah صلى الله عليه وسلم 

Kisah ini berawal dari sejak pertama wafat Nabi Muhammad yang mulia dan kepergiannya menghadap 

Rabbnya,di mana  kabilah-kabilah arab berbondong-bondong meninggalkan agama Allah setelah 

sebelumnya mereka berbondong-bondong kedalamnya.Mereka yang tetap teguh di atas islam hanyalah 

orang-orang arab,makkah,madinah,thaif dan beberapa kabilah di sekitarnya dari kalangan yang Allah 

teguhkan hatinya di dalam agama Islam.

 Ash-Shiddiq teatap tegak menghadapi fitnah buta yang merusak agama ini layaknya gunung 

 yang berdiri kokoh.

Maka Ash-Shiddiq mengirim pasukan yang di panglimai oleh Khalid bin Al-Waliid yang 

 beranggotakan para sahabat dari kalangan muhajiriin dan anshar.untuk menyerang kabilah musailamah 

al-kazzab. di barisan paling depan pasukan ini

adalah Al-Barra' bin malik al-anshary dan beberapa pasukan pemberani lainnya  di barisan depan.

 

Pada saat itu kaum muslimiin merasakan sebuah bahaya yang sangat besar!,mereka menyadari

bahwa jika mereka kalah niscaya islam tidak akan pernah berdiri kokoh lagi sejak hari itu.


 Khalid maju menghampiri pasukannya,dia mulai mengatur ulang,memisahkan antara orang-orang muhajriin dari orang-orang anshar,dia juga memisahkan orang-orang pedalaman lainnya.

Gendrang perang perang kembali di mulai di antara dua kubu,yang memakan korban yang begitu

besar!,kaum muslimiin belum pernah mengenal perang sedahsyat itudalam sejarah mereka sebelumnya

pasukan musailamah perpegang dengan teguh di medan peang layaknya gunung yang tegak menjulang

tinggi,mereka tidak berpengaruh pada korban yang begitu banyak yang berjatuhan.

Khalid melihat peperangan semakin sengit!! dan menapai puncaknya dan mencapai puncaknya,

pada saat itu khalid menoleh kepada al-barra', dan berkata majulah wahai pemuda anshar


 Kemudian dia melangkah maju di tengah berkecamuknya perang yang sengit,dia menerjang dan 

 dan membelah barisan musuh,menebaskan pedangnya ke leher musuh-musuh Allah,pasukan musailam

ah pun mulai kewalahan mereka pun mundur di balik tembok benteng mereka,benteng itu dikenal 

setelah itu sejarah dengan benteng kematian, karena banyaknya korban yang terbunuh di dalamnya 

Pada saat itulah pahlawan kaum muslimiin yang pemberani al-barra' bin malik melangkah ke 

depan dia mengatakan"wahai kaum muslimiin letakkan aku di sebuah tameng!,angkatlah tameng itu 

di ujung tombak,kemudian lemparkan aku ke dalam benteng dekat pintu gerbangnya!!" 

Dalam sekejap al-barra' sudah duduk dia tas tameng,berbadan kurus kerempeng,puluhan tombak 

mengangkatnya dan melemparkannya ke dalam benteng maka al barra pun turun di antara barisan 

pasukan musailamah layaknya sebuah halilintar yang menyambar-nyambar sehingga dia berhasil 

menyudahi perlawanan  sepuluh orang dari mereka dan membuka pintu benteng sekalipun dia harus 

menerima 80lebih luka di tubuhnya berupa tusukan panah atau tebasan pedang.


 Maka kaum muslimiin berhamburan untuk masuk kedalam benteng mereka menebaskan pedang-

pedang mereka ke leher orang-orang yang murtad,kaum mslimiin berhasil membunuh 20.000orang 


dari mereka kaum muslimiin sampai ke musailamah dan mengirimnyake pintu kematian

Al-barra' pun di bawa ke tendanya untuk di obati.Khalid bin Al-Waid menempatkan untuk 

tinggal di bumi yamamah selama satu bulan dalam rangka menyembuhkan luka-luka kaum muslimiin

Tibalah saatnya penaklukkan kota Tustar(kota terbesar di khuzastan).Di negeri persia,bersembunyi

di salah satu bentengnya maka kaum muslimiin mengepung kota itu dari segala penjuru,pengepungan

perlangsung sangat lama,orang-orang persia merasakan beratnya pengepungan,mereka pun

mengulurkan rantai-rantai besi dari atas benteng.Pada rantai-rantai itutergantung kait- kait yang telah

di bakardengan api sehinggakeadaannya lebih panas dari bara,kait-kait besi ini pun menyambar kaum 

muslimiin dan menjepit mereka ,yang terjepit akan etrangkat ke atas selanjutnya dia akan mati atau 

mendekati kematian.

Salah satu pengait besi itu menyambar ke pada Anas bin Malik saudara al- barra',al-barra'

langsung memanjat dinding benteng,memegang rantai-rantai besi yang menyambar saudaranya,dia 

melawan kait -kait besi  berusaha melepaskan kait besi dari saudaranya ,tangan al-barra' terbakar 

sehingga mengeluarkan asap,namun dia tidak mempedulikannya sehingga dia berhasil menyelamatkan 

saudaranya,al-barra' turun ke bumi dalam keadaan tangan tanpa daging hanya tinggal tulang!.Sehingga

dia gugur sebagai syahid.

Semoga allah merahmatinya amiin.

 

 

Lokasi Kaum Tsamuud

 Allah Ta'ala berfirman tentang kaum Tsamuud: "dan kaum Tsamuud memotong bati-batu besar di lembah"( QS.Al-Fajr ayat 9) Posisi...