Khadijah binti Khuwailid.رضي الله عنها

 Khadijah bin Khuwalid

Ummul Mukminin, itulah gelar yang disandangkan bagi pemimpin para wanita ahli surga, Khadijah binti Khuwalid. Ia adalah istri Rasulullah yang selalu berada di sis beliau di kala suka maupun duka.

Dilahirkan di Mekah pada tahun 68 sebelum hijrah, ia tumbuh di tengah keluarga terhormat nan mulia. Keluarganya kaya raya dan terpandang. Namun, akhlak mulia yang dimililkinya membuat ia dikenal sebagai Ath-Thahirah (wanita suci).

Meskipun kaya raya dan merupakan seorang istri dari Rasulullah, sosok Khadijah tidak pernah lepas dari gambaran wanita yang setia. Ia rela mengorbankan harta, pikiran, jiwa dan raganya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dengan penuh khidmat dan rasa cinta, ia selalu berusaha untuk mendapatkan keridhaan sang suami.

Dalam sebuah hadist disebutkan,

“Wahai Rasulullah, Khadijah sebentar lagi akan datang sambil membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka, jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dariku. Dan sampaikan pula kabar gembira untuknya, yaitu sebuah rumah dan mutiara-mutiara di surga. Tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan” (HR. Bukhari)

Begitu teguhnya imannya, kemuliaan akhlaknya sebagai seorang istri dan ketulusan cintanya pada Rasul membuat Baginda Rasulullah tidak dapat melupakannya meskipun Khadijah wafat lebih dulu kala itu.

Istri ketiga Rasul, Aisyah Radhiyallahu ‘anha pun di buat cemburu atas hal tersebut. Ia merasa cemburu akan kecintaan sang baginda kepada Khadijah meski sudah tiada. Dalam suatu hadis diriwayatkan, Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga Beliau selalu menyebut nama Khadijah dan memujinya setiap hari.

Aku cemburu dan berkata, ‘Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau?’


Maka Rasulullah marah sampai berkerut dahinya, kemudian bersabda, ‘Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya! Sungguh ia telah beriman saat manusia mendustakanku, menolongku dengan hartanya di saat manusia menjauhiku dan dengannya Allah mengkaruniakan anak padaku, tidak dengan wanita (istri) yang lain.’

“Aku pun berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

Previous
Next Post »
0 Komentar

Lokasi Kaum Tsamuud

 Allah Ta'ala berfirman tentang kaum Tsamuud: "dan kaum Tsamuud memotong bati-batu besar di lembah"( QS.Al-Fajr ayat 9) Posisi...