Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mewariskan
ilmu pengetahuan yang paling utama dan paling mulia, yaitu agama Islam yang
lurus ini. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh
(Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah
Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu
cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara
hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada
jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)
Beliau juga mendapatkan pengakuan langsung yang sangat mulia
dari Allah Ta’ala,
“Dan sesungguhnya engkau
benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4
Dengan tingginya kedudukan Nabi
dan kemuliaannya, beliau adalah panutan manusia dalam hal ke-tawadhu’-an dan
kerendahan hati. Bagaimana tidak? Sedang Allah Ta’ala berfirman,
“Maka berkat rahmat Allah engkau
wahai Muhammad berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS.
Al-Imran: 159).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
juga diperintahkan untuk berlaku tawadhu’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Dan sesungguhnya, Allah
mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang
menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR.
Muslim no. 2865)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
juga memberikan kabar gembira untuk mereka yang bersikap tawadhu’,
“Sedekah itu tidak akan
mengurangi harta. Tidaklah ada orang yang memberi maaf kepada orang lain,
melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’
karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
juga bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman,
‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarungku-Ku. Barangsiapa
yang menyaingi Aku pada salah satu dari kedua sifat tersebut, niscaya Aku akan
melemparkannya ke dalam api neraka.’” (HR. Abu Dawud no. 4090, Ahmad no. 9359
dan Ibnu Majah no. 4174)
Dalam keseharian Nabi-shallallahu
alaihi wasallam- tercermin ketawaduan yang jelas, dari segi cara berpakain,
cara berkendara dan lainnya tidak berlebih-lebihan, padahal bisa saja beliau
memakai pakaian seperti pakaian mewah para raja di zaman itu, berkendara dengan
tunggangan kuda tangguh yang mahal sebagaimana yang dilakukan sebagian orang di
zaman itu.
Di antara bentuk ke-tawadhu’-an
beliau yang lain, saat sedang di rumah, maka beliau akan mengerjakan beberapa
pekerjaan rumah dan membantu istri-istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata saat
ada yang bertanya perihal keseharian Nabi di rumahnya,
“Beliau selalu membantu pekerjaan
keluarganya, dan jika datang waktu salat, maka beliau keluar untuk melaksanakan
salat.” (HR. Bukhari no. 676)
Di antara bentuk ke-tawadhu’-an
beliau juga adalah apa yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
“Tidak ada seorang pun yang lebih
mereka (para sahabat) cintai saat melihatnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Namun, jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka
mengetahui kebencian beliau atas hal itu.” (HR. Tirmidzi no. 2754 dan Ahmad no.
13623)
Lihat bagaimana kisah
ke-tawadhu’-an Nabi dengan seorang perempuan berkulit hitam yang biasa menyapu
dan membersihkan masjid Nabawi di masa Nabi-shallallahu alaihi wasallam-
Suatu ketika Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam merasa kehilangan dan tidak mendapati perempuan tersebut, lalu
beliau menanyakannya kepada para sahabat. Para sahabat pun menjawab, “Ia telah
wafat.”
Lalu Nabi bersabda, “Kenapa
kalian tidak memberitahukan kepadaku?”
Abu Hurairah berkata,
“Seolah-olah mereka meremehkan urusannya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Tunjukkan kuburnya kepadaku.”
Lalu mereka menunjukkannya,
beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya
kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya. Dan sesungguhnya
Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan salatku terhadap
mereka.” (HR. Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956)
Bahkan ke-tawadhu’-an Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam juga terwujud dan dirasakan oleh budak-budak. Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,
“Sekiranya ada seorang budak dari
budak penduduk Madinah menggandeng tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam (meminta tolong kepada Nabi), sungguh beliau akan beranjak bersamanya
ke mana budak itu pergi (sampai selesai urusan yang dimintai pertolongannya
dari Nabi tersebut).” (HR. Bukhari secara muallaq no. 6072)
Subhanallah, seorang budak
mengambil tangannya, sedangkan beliau di tengah para sahabatnya dan dengan
banyaknya kesibukan beliau, namun beliau tetap melayani dan berlaku lemah
lembut terhadap budak tersebut!
Sungguh semua kisah ini akan
membuat kita semakin mencintai beliau, karena fitrah manusia adalah mencintai
mereka yang berlaku tawadhu’ dan rendah hati.
Di antara bukti ketawaduan beliau
-shallallahu alaihi wasallam-, apa yang diceritakan oleh Abu Dzar dan Abu
Hurairah -radiallahu anhuma-:
“Dari Abu Dzar dan Abu
Hurairah-radiallahu anhuma-:Rasulullah sering duduk di tengah-tengah para
sahabat beliau, lalu jika datang orang asing, ia tak akan tahu manakah sosok
Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-. Lalu kami meminta kepada beliau agar
mau dibuatkan tempat duduk khusus agar orang asing yang datang langsung
mengetahui di mana beliau.” (Shahih Abu Dawud: 4698).
Di antara bentuk ketawaduan
Nabi-shallallahu alaihi wasallam-adalah beliau kerap kali menanyakan tentang
kondisi dan keadaan sahabat-sahabat beliau bahkan dalam kondisi genting saat
peperangan:
.jpg)
Diceritakan oleh Abu
Barzah-radiallahu anhu-dalam Shahih Muslim: “Bahwa dalam sebuah peperangan Nabi
-shallallahu alaihi wasallam- bertanya: Apakah kalian kehilangan seseorang? lalu
para sahabat menyebutkan beberapa nama, beliau-shallalhu alaihi wasallam-
bertanya lagi: Apakah kalian kehilangan seseorang? Maka para sahabat
menyebutkan nama-nama yang lain lagi. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam-
bertanya lagi: Apakah kalian kehilangan seseorang, para sahabat menjawab: tidak
ada lagi. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam- bersabda: Saya kehilangan
seorang bernama Julaibib, carilah dia, lantas para sahabat menemukannya di
samping tujuh orang musuh yang berhasil dia bunuh dalam perang itu dan iapun
terbunuh. Lalu Nabi-shallallahu alaihi wasallam-datang dan berdiri di dekat
jenazah Julaibib seraya bersabda: Ia telah berhasil membunuh 7 musuh lalu dia
terbunuh. ila akhiril hadits.
Di antara bentuk tawadhu’
beliau-shallallahu alaihi wasallam- apa yang disebutkan dalam Shahih Bukhari
Muslim bahwasanya Anas bin Malik lewat di depan anak-anak kecil lalu
mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian Anas mengatakan:
“Nabi-shallallahu alaihi
wasallam-melakukan hal itu” (yaitu apabila lewat bahkan di depan anak-anak
kecil beliau memberi salam).
Di antara bentuk tawadhu’ beliau
-shallallahu alaihi wasallam- adalah bahwa beliau kerap kali membonceng para
sahabat di atas kendaraan yang beliau tunggangi, Anas bin Malik -radiallahu
anhu- mengatakan:
“Nabi-shallallahu alaihi
wasallam- kerap kali membonceng orang di atas kendaraannya, menaruh makannya di
atas tanah, memenuhi undangan walaupun dari seorang budak dan kendaraannya
beliau sederhana berupa keledai.” (Shahih al-Jami’:4945).
Hadirin Jama’ah shalat jumat yang
dirahmati Allah
Akan sangat panjang jika kita
menyebutkan semua riwayat tentang bentuk-bentuk ketawaduan Nabi-shallallahu
alaihi wasallam-, namun sekelumit riwayat dan hadits-hadits tadi rasanya cukup
menggambarkan bagaimana indahnya ketawaduan yang langsung dipraktekkan oleh
beliau dan kita merasa layak untuk memiliki sifat yang mulia ini.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala
memberikan kita semua sifat-sifat mulia yang menghiasai akhlak dan adab kita
dan mengindarkan dari kita semua sifat-sifat tercela. Amiin ya rabbal alamiin.